Rabu, 11 Januari 2012

PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI



A.    Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini
a.      Karakteristik Umum Anak Usia Dini
Mengenal karakteristik peserta didik untuk kepentingan proses pembelajaran merupakan hal yang penting. Adanya pemahaman yang jelas tentang karakteristik peserta didik akan memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif. Berdasarkan pemahaman yang jelas tentang karakteristik peserta didik, para guru dapat merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaransesuai perkembangan anak. Pembahasan berikut ini tidak akan mengurangi secara rinci teori-teori perkembangan anak usia ini karena hal itu perlu kajian tersendiri. Namun dalam uraian ini akan diidentifikasi sejumlah karakteridtik anak usia TK untuk kepentingan pembahasan
pengelolaan kelas di TK.
Menurut Mushtafa (2002) praktik pendidikan dan pengajaran anak usia dini selama beberapa dasawarsa belakangan ini sangat dipengaruhi oleh teori perkembangan Jean Piaget. Piaget mengkatagorikan empat tahapan perkembangan kognitif dan afektif yang dilalui manusia. Menurut teori ini, anak-anak berkembang secara kognitif melalui keterlibatan aktif dengan lingkungannya. Dikaitkan dengan teori ini, perkembangan anak usia dini berada pada tahap berpikir praoperasional (usia 2-7 tahun). Pada tahap ini perkembangan anak sudah  ditandai dengan per-kem-bangan bahasa dan berbagai bentuk representasi lainnya serta perkem-bangan konseptual yang pesat. Proses berfikir anak berpusat pada penguasaan simbol-simbol seperti kata-kata yang mampu mengung-kapkan pengalaman masa lalu. Manipulasi symbol, termasuk kata-kata, merupakan karakteristik penting dari tahap praoperasional. Hal ini tampak dalam meniru sesuatu yang tertunda sehingga menghasilkan suatu tindakan yang telah dilihat di masa lalu dan dalam imajinasi anak-anak atau pura-pura bermain (Piaget, 1951) yang dikutip Mussen, Conger, Kagen dan Huston (1984). Nalar anak-anak pada tahap ini belum tampak logis dan mereka cenderung sangat egosentris. Egosentris pada anak usia prasekolah tidak berarti ia mementingkan diri sendiri, melainkan anak usia prasekolah tidak dapat melihat sesuatu dari pandangan orang lain.
Anak-anak usia 2-4 tahun menurut Musthafa (2002) mempunyai ciri sebagai berikut :
1.      Anak-anak prasekolah mempunyai kepekaan bagi perkembangan bahasanya.
2.      Mereka menyerap pengetahuan dan keterampilan berbahasa dengan cepat dan piawai dalam mengolah input dari lingkungannya.
3.      Modus belajar yang umumnya disukai adalah melalui aktivitas fisik dan berbagai situasi yang bertautan langsung dengan minat dan pengalamannya.
4.      Walaupun mereka umumnya memiliki rentang perhatian yang pendek, mereka gandrung mengulang-ngulang kegiatan atau permainan yang sama.
5.      Anak-anak prasekolah ini sangat cocok dengan pola pembelajaran lewat pengalaman konkret dan aktivitas motorik.

Sementara itu, anak-anak usia 5-7 tahun sebagai tahun-tahun awal memasuki sekolah dasar mereka mempunyai ciri sebagai berikut :
  1. Kebanyakan anak-anak usia ini masih berada pad tahap berpikir praoperasional dan cocok belajar melalui pengalaman konkret dan dengan orientasi tujuan sesaat.
  2. Mereka gandrung menyebut nama-nama benda, medefinisikan kata-kata, dan mempelajari benda-benda yang berada di lingkungan dunianya sebagai anak-anak
  3. Mereka belajar melalui bahasa lisan dan pad tahap ini bahasanya telah berkembang dengan pesat, dan
  4. Pada tahap ini anak-anak sebagai pembelajar memerlukan struktur kegiatan yang jelas dan intruksi spesifik.



Usia dini merupakan perkembangan dan pertumbuhan yang sangat menentukan perkembangan masa selanjutnya. Berbagai studi yang dilakukan para ahli menyimpulkan bahwa pendidikan anak sejak usia dini dapat memperbaiki prestasi dan meningkatkan produktivitas kerja masa dewasanya.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Adapun menurut para ahli sebagai berikut :
  1. Erickson (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 1993 :
Mengemukakan bahwa “masa kanak-kanak merupakan gambaran manusia sebagai manusia. Prilaku yang berkelainan pada masa dewasa dapat dideteksi pada masa kanak-kanak”.
  1. Eric Fromm (1937)
Mengemukakan bahwa “orang yang berkemungkinan menjadi neurotic adalah orang yang pernah mengalami kesulitan-kesulitan dalam taraf yang serius, terutama disebabkan oleh pengalaman pada masa kanak-kanak”.
            Begitu pentingnya masa usia dini ini, sampai-sampai Sigmund Freud berpendapat bahwa “Child is Father Of Man” (anak adalah ayah dari manusia), artinya masa anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian masa dewasa seseorang.
            Secara umum, masa ini memiliki karakteristik atau sifat-sifat sebagai berikut (M. Solehuddin dan Ihat Hatimah dalam M. Ali (Ed.), 2007: 1097-1098).
  1. Unik. Artinya sifat anak itu berbeda satu sama lainnya. Anak memiliki bawaan, minat, kapabilitas, dan latar belakang kehidupan masing-masing. Meskipun terdapat pola urutan umum dalam perkembangan anak yang dapat diprediksi, pola perkembangan dan belajarnya tetap memiliki perbedaan satu sama lainnya.
  2. Egosentri. Anak lebih cenderung melihat dan memahami sesuatu dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Bagi anak, sesuatu itu akan penting sepanjang hal tersebut terkait dengan dirinya.
  3. Aktif dan Energik. Anak lazimnya senang melakukan berbagai aktivitas. Selama terjaga dari tidur, anak seolah-olah tidak pernah lelah, tidak pernah bosan, dan tidak pernah berhenti dari aktivitas, terlebih lagi kalau anak dihadapkan pada suatu kegiatan yang baru dan menantang.
  4. Rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal. Anak cenderung banyak memerhatikan, membicarakan, dan mempertanyakan berbagai hal yang sempat dilihat dan didengarnya, terutama terhadap hal-hal yang baru.
  5. Eksploratif dan berjiwwa petualang. Terdorong oleh rasa ingin yahu yang kuat, anak lazimnya senang menjajal, mencoba, dan mempelajari hal-hal yang baru dibelinya. Kadang-kadang ia terlibat secara intensif dalam kegiatan memerhatikan, memainkan, dan melakukan sesuatu dengan benda-benda yang dimilikinya.
  6. Spontan. Prilaku yang ditampilkan anak umumnya relative asli dan tidak ditutup-tutupi sehingga merefleksikan apa yang ada dalam perasaan dan pikirannya. Ia akan marah kalau ada yang membuatnya jengkel, ia akan menangis kalau ada yang membuatnya sedih dan ia pun akan memperlihatkan wajah yang ceria kalau ada yang membuatnya bergembira, tidak peduli dimana dan dengan siapa ia berada.
  7. Senang dan kaya dengan fantasi. Anak senang dengan hah-hal yang imajinatif. Anak tidak saja senang terhadap cerita-cerita hayal yang disampaikan oleh oprang lain, tetapi ia sendiri juga senang bercerita kepada orang lain. Kadang-kadang ia juga dapat bercerita melebihi pengalaman aktualnya atau kadang-kadang bertanya tentang hal-hal yang gaib sekalipun.
  8. Masih mudah frustasi. Umumnya anak masih mudah frustasi, atau kecewa bila menghadapi sesuatu yang tidak memuaskan. Ia mudah menangis atau marah bila keinginannya tidak terpenuhi. Kecendrungan prilaku anak seperti ini terkait dengan sifat egosentrisnya yang masih kuat, sifat spontanitasnya yang masih tinggi, serta rasa empatinya yang masih relative terbatas.
  9. Masih kurang pertimbangan dalam melakukan sesuatu. Sesuai dengan perkembangan cara berpikirnya, anak lazimnya belum memiliki rasa pertimbangan yang matang, termasuk berkenaan dengan hal-hal yang membahayakan. Ia kadang-kadang melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya dan orang lain.
  10. Daya perhatian yang pendek. Anak lazimnya memiliki daya perhatian yang pendek, kecuali terhadap hal-hal yang secara intrinsic menarik dan menyenangkan. Ia masih sangat sulit untuk duduk dan memperhatikan sesuatu dalam jangka waktu yang lama.
  11. Bergairah untuk belajar dan banyak belajar dari pengalaman. Anak senang melakukan berbagai aktivitas yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku pada dirinya. Ia senang mencari tahu tentang berbagai hal, mempraktekkan berbagai kemampuan dan keterampilan, serta mengembangkan konsep dan keterampilan baru. Namun tidak seperti orang dewasa cenderung banyak belajar dari pengalaman melalui interaksi dengan benda atau orang lain daripada belajar dari simbol.
i.        Semakin menunjukkan minat terhadap teman. Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman sosial, anak semakin berminat terhadap orang lain. Ia mulai menunjukkan kemampuan untuk bekerja sama dan berhubungan dengan teman-temannya. Ia memiliki penguasaan perbendaharaan kata yang cukup untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Anak usia dini (0 – 8 tahun) adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Bahkan dikatakan sebagai lompatan perkembangan karena itulah maka usia dini dikatakan sebagai golden age (usia emas) yaitu usia yang sangat berharga dYasminding usia-usia selanjutnya. Usia tersebut merupakan fase kehidupan yang unik. Secara lebih rinci akan diuraikan karakteristik anak usia dini sebagai berikut :
a.       Usia 0 - 1 tahun
Pada masa bayi perkembangan fisik mengalami kecepatan luar biasa, paling cepat dYasminding usia selanjutnya. Berbagai kemampuan dan ketrampilan dasar dipelajari anak pada usia ini. Beberapa karakteristik anak usia bayi dapat dijelaskan antara lain :
1.      Mempelajari ketrampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan.
2.      Mempelajari ketrampilan menggunakan panca indera, seperti melihat atau mengamati, meraba, mendengar, mencium dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke mulutnya.
3.      Mempelajari komunikasi sosial. Bayi yang baru lahir telah siap melaksanakan kontrak sosial dengan lingkungannya. Komunikasi responsif dari orang dewasa akan mendorong dan memperluas respon verbal dan non verbal bayi.
Berbagai kemampuan dan ketrampilan dasar tersebut merupakan modal penting bagi anak untuk menjalani proses perkembangan selanjutnya.

b.      Usia 2 – 3 tahun
Anak pada usia ini memiliki beberapa kesamaan karakteristik dengan masa sebelumnya. Secara fisik anak masih mengalami pertumbuhan yang pesat. Beberapa karakteristik khusus yang dilalui anak usia 2 – 3 tahun antara lain :
1.      Anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia memiliki kekuatan observasi yang tajam dan keinginan belajar yang luar biasa. Eksplorasi yang dilakukan oleh anak terhadap benda-benda apa saja yang ditemui merupakan proses belajar yang sangat efektif. Motivasi belajar anak pada usia tersebut menempati grafik tertinggi dYasminding sepanjang usianya bila tidak ada hambatan dari lingkungan.
2.      Anak mulai mengembangkan kemampuan berbahasa. Diawali dengan berceloteh, kemudian satu dua kata dan kalimat yang belum jelas maknanya. Anak terus belajar dan berkomunikasi, memahami pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan pikiran. Anak mulai belajar mengembangkan emosi. Perkembangan emosi anak didasarkan pada bagaimana lingkungan memperlakukan dia. Sebab emosi bukan ditemukan oleh bawaan namun lebih banyak pada lingkungan.

c.       Usia 4 – 6 tahun
Anak usia 4 – 6 tahun memiliki karakteristik antara lain :
1.      Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal ini bermanfaat untuk mengembangkan otot-otot kecil maupun besar.
2.      Perkembangan bahasa juga semakin baik. Anak sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu.
3.      Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar. Hl itu terlihat dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang dilihat.
4.      Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial. Walaupun aktifitas bermain dilakukan anak secara bersama.

d.      Usia 7 – 8 tahun
Karakteristik perkembangan anak usia 7 – 8 tahun antara lain :
1.      Perkembangan kognitif anak masih berada pada masa yang cepat. Dari segi kemampuan, secara kognitif anak sudah mampu berpikir bagian per bagian. Artinya anak sudah mampu berpikir analisis dan sintesis, deduktif dan induktif.
2.      Perkembangan sosial anak mulai ingin melepaskan diri dari otoritas orangtuanya. Hal ini ditunjukkan dengan kecenderungan anak untuk selalu bermain di luar rumah bergaul dengan teman sebaya.
3.      Anak mulai menyukai permainan sosial. Bentuk permainan yang melibatkan banyak orang dengan saling berinteraksi.
4.      Perkembangan emosi anak sudah mulai berbentuk dan tampak sebagai bagian dari kepribadian anak. Walaupun pada usia ini masih pada taraf pembentukan, namun pengalaman anak sebenarnya telah menampakkan hasil.

Untuk memahami karakteristik anak usia dini lebih lanjut, pada paparan berikut akan diuraikan berbagai pendapat dari para ahli. Paparan ini  membahas karakteristik setiap aspek perkembangan, baik yang menyangkut fisik, psikis, sosial, maupun moral-spiritual.
Yelon dan Weinstein (1977: 15-17) mengemukakan karakteristik perkembangan anak usia dini sebagai berikut :

Aspek Usia
Usia 1 - 3
Usia Prasekolah
1.      Fisik
a.       Sangat aktif.
b.      Belajar merangkak, brjalan, lari, memanjat, makan sendiri, bermain balok, dan menggaruk.
c.       Belajar kebiasaan ke toilet.

a.   Sangat aktif.
b.  Dapat mengordinasikan mata dan tangan, melempar, menangkap, loncat, melompat, menggambar, dan menulis.
c.   Dapat belajar berbagai keterampilan tangan sederhana.
2.      Mental
a.      Perkembangan bahasa dari menangis ke berbicara
b.      Belajar konsep-konsep, seperti : warna, satu, dan banyak.
c.       Memandang benda sebagai sesuatu yang dapat berprilaku.
a.   Egosentris, belum memahami pandangan atau perasaan orang lain.
b.   Perkembangan bahasa : dapat berbicara dalam bentukkalimat, perbendaharaan bahasanya sudah bertambah banyak, dan sangat tertarik dengan kisah-kisah.
c.   Memiliki kesulitan untuk berpikir abstrak.
3.      Sosial
a.      Mulai senang bermain di luar rumah.
b.      Menyenangi nak-anak yang lain, tetapi belum bisa bermain dengan mereka.
a.   Mulai menghormati otoritas.
b.   Sudah dapat mengikuti aturan.
c.   Sudah dapat berteman, meskipun belum mempunyai teman yang tetap.
4.      Emosional
1.      Dapat merespons terhadap kasih sayang dan persetujuan.
2.      Masih tergantung pada orang tua.
3.      Berkembangnya beberapa bentuk pernyataan perasaan dari yang sebelumnya hanya dengan menangis.
1.   Dapat merespons terhadap kasih sayang dan persetujuan.
2.   Mulai memerhatikan tipe-tipe oaring, baik yang terkait dengan jenis kelamin, peranan, maupun kemampuannya.
3.   Dapat merespons kegiatan rutin dengan baik.
4.   dapat mengekspresikan semua emosinya.
Respons Orang Dewasa (Orang Tua atau Guru)
1.      Menanamkan kedisiplinan yang ringan secara konsisten.
2.      Memberikan perlindungan tanpa bersikap “over protection”.
3.      Berbicara dengan anak dan merespons pembicaraannya.
4.      Memberikan kesempatan untuk aktif bergerak dan bereksplorasi.
5.      Memberikan penghargaan kepada prilaku anak yang baik.  
1.   Menanamkan sikap tanggung jawab dan independen.
2.   Menjawab pertanyaan anak.
3.   Membenikan berbagai objek fisik untuk dieksplorasi.
4.   Memberikan pengalaman berinteraksi sosial melalui bekerja dengan kelompok kecil.
5.   Membuat program-program kegiatan, seperti menyanyi, dan menari.
6.   Melakukan berbagai kegiatan untuk mengembangkan bahasa anak, seperti: bercerita tentang kisah-kisah, membuat klasifikasi (benda-benda atau hal lain), mendiskusikan masalah-masalah sederhana, dan membuat peraturan.

Balitbang Diknas (2002) mengemukakan karakteristik setiap aspek perkembangan bagi anak usia dini sebagai berikut (karakteristik yang ditampilkan hanya sebagiannya).
1.      Fisik (0 - 12 Bulan) :
a.      Motorik Halus.
·         Memegang, mengambil, dan melempar benda (seperti balok).
·         Memegang botol susu dalam mulutnya.
·         Bertepuk tangan..

b.      Motorik Kasar.
·         Mengangkat kepala.
·         Membalikan badan.
·         Merangkak.
·         Duduk dan Berdiri.
·         Berjalan sendiri beberapa langkah.

Fisik (1 - 3 Tahun) :
  1. Motorik Halus
·         Mencoret-coret dengan alat tulis dan menggambar bentuk-bentuk sederhana (garis dan lingkaran beraturan).
·         Bermain dengan balok.
  1. Motorik Kasar.
·         Dapat benjalan dengan lancar.
·         Mencoba memanjat ketinggian (kursi, meja, atau tangga).

Fisik (4 - 6 Tahun) :
a.       Motorik halus.
·         Dapat mengurus sendiri.
·         Belajar menggunting.
·         Menjahit sederhana.
·         Melipat kertas sederhana.
b.      Motonik Kasar.
·         Berlari dengan cepat.
·         Naik tangga.
·         Melompat di tempat.
·         Dapat bangun dari tidur tanpa berpegangan.

2.      Bahasa (0 - 12 Bulan) :
·         Menangis.
·         Mengoceh.
·         Bereaksi ketika namanya dipanggil.

Bahasa (1 - 3 Tahun) :
·         Mengucapkan kalimat terdiri dari dua kata.
·         Dapat menggunakan bahasa isyarat.
·         Mengerti perintah sederhana.
·         Dapat menyebut nama dirinya.
·         Dapat menggunakan kalimat tanya (seperti “apa ini?”).
·         Mengerti larangan “jangan”.

Bahasa (4 - 6 Tahun) :
·         Menyebutkan nama, jenis kelamin, umur, dan alamat rumah.
·         Berbicara lancar dengan kalimat sederhana.
·         Dapat menggunakan dan menjawab pertanyaan “apa”,“mengapa’ “dimana”,“berapa”,“bagaimana’, dan “kapan”.
·         Senang mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana.

3.      Kognitif / Daya Cipta (0 - 12 Bulan) :
·         Mengamati mainan.
·         Mengenal dan membedakan wajah ayah dan ibu.
·         Memasukkan benda ke dalam mulut.

Kognitif / Daya Cipta (1 - 3 Tahun) :
·         Mulai mengenal benda milik sendiri.
·         Mulai mengenal konsep warna dan bentuk.
·         Meniru perbuatan orang lain.
·         Menunjukkan rasa ingin tahu yang besar dengan banyak bertanya.
·         Mengenal makhluk hidup.




Kognitif / Daya Cipta (4 - 6 Tahun) :
·         Dapat menggunakan konsep waktu.
·         Dapat mengelompokkan benda dengan berbagai cara (warna, ukuran, bentuk).
·         Mengenal bermacam-macam rasa, bau, suara, ukuran, dan jarak.
·         Mengenal sebab akibat.
·         Dapat melakukan uji coba sederhana.
·         Mengenal konsep bilangan.
·         Mengenal bentuk-bentuk geometri.
·         Mengenal alat untuk mengukur.
·         Mengenal penambahan dan pengurangan dengan benda-benda.

4.      Sosial-Emosi (0 - 12 Bulan) :
·         Membalas senyuman orang lain.
·         Menangis sebagai reaksi terhadap perasaannya yang tidak nyaman.

3 komentar:

  1. Makasih ya Boss!

    BalasHapus
  2. Artikelnya lengkap dan menarik, dapat dijadikan referensi untuk makalah nich.. ditunggu kunjungan baliknya ya mas..terimakasih..salam

    BalasHapus