Minggu, 05 Desember 2010

FILSAFAT PENDIDIKAN DAN SDM

FILSAFAT PENDIDIKAN DAN PENINGKATAN
KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA


Pendidikan adalah sebagai pelaksana dari ide-ide filsafat. Atau dengan perkataan lain bahwa ide filsafat telah memberikan asas sistem nilai dan atau normatif bagi peranan pendidikan yang telah melahirkanilmu pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan, dan dengan segala aktifitasnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa filsafat pendidikan sebagai jiwa, pedoman dan sumber pendorong adanya pendidikan. Inilah antara lain peranan filsafat pendidikan.
Karena filsafat menetapkan ide-ide dan idealisme sedangkan pendidikan adalah suatu usaha yang sengaja dan terencana untuk merealisasikan ide-ide itu menjadi kenyataan dalam tindakan dan prilakuserta pembinaan kepribadian. Hal ini sebagaimana tersimpul dalam pikiran Kilpatrick yang dikemukakan dalam bukunya Philosophy of Education sebagai berikut :
Philosophy of education, we may add, is the study of comparative effects (1) of rival pilosophies on the life process and (2) of alternative educative process on character building – both undertaken in order to find what managemen of education is likely to build of the most constructive in young and old.
Dari pandangan Kilpatrick tadi dapat dipahami bahwa peranan dan fungsi filsafat pendidikan adalah menyelidiki perbandingan pengaruh-pengaruh dari :
1.Filsafat-filsafat yang bersaing didalam proses kehidupan
2.Kemungkinan proses-proses pendidikan dan pembinaan watak kedunya mengusahakan untuk menemukan pengolahan pendidikan yang dikehendaki untuk membina watak yang paling konstruktif bagi golongan tua dan muda.

Adapun perbandingan pengaruh dari beberapa ide filsafat dalam pendidikan dapat diketahui melalui sejarah pendidikan, antara lain tersimpul dalam pandangan-pandangan:
1.Aliran Empirisme
Kata Empirisme barasal dari kata empiri yang berarti pengalaman. Tokoh aliran ini adalah John Locke (seorang filosof bangsa Inggris). Ia berpendapat bahwa anak lahir didunia ini sebagai kertas kosong atau sebagai meja berlapis lilin (tabula rasa) yang belum ada tulisan di atasnya sehingga aliran ini disebut juga dengan nama aliran tabula rasa.
Menurut teori ini bahwa kepribadian didasarkan pada lingkungan pendidikan yang didapatnya atau perkembangan jiwa seseorang semata-mata bergantung kepada pendidikan. Dan menurut teori empirisme ini juga menyatakan bahwa pendidik dapat berbuat sekehendak hati dalam pembentukan pribadi anak didik sesuai yang diinginkan.
Disamping tokoh tersebut di atas terdapat juga ahli pendidikan yang lain dan mempunyai pandangan yang hampir sama dengan John Locke, Yaitu helvatus (seorang ahli filsafat Yunani) berpendapat bahwasanya manusia dilahirkan dengan jiwa dan watak yang hampir sama yaitu suci dan bersih.Pendidikan dan lingkunganlah yang akan membuat manusia berbeda-beda. Demikian pula seorang pemikir zaman Aufklarung bernama Claude Adrien Helvetius (1715 – 1771) telah merumuskan jawaban dari pertanyaan : Bagaimana dapat terjadi agsr msnusia liar itu menjadi manusia yang kuat dan terampil, beradap serta kaya akan ilmu pengetahuan dan gagasan-gagasan?
Dan yang termasuk aliran ini adalah aliran progresvisme yang bersifat evolusionistis dan percaya kepada kemampuan-kemampuan manusia untuk mengadakan perubahan-perubahan.
2.Nativisme dan Naturalisme
a) Nativisme
Aliran ini adalah penganut dari salah satu ajaran filsafat idealisme. Tokohnya Athur Schopenhauer (1788 – 1860) yang berpandangan bahwa faktor pembawaan yang bersifat kodrat dari kelahiran dan tidak mendapatkan pengaruh dari alam sekitar atau pendidikan sekalipun, dan itulah yang disebut kepribadian manusia. Potensi-potensi dari faktor pembawaan yang bersifat kodrati sebagai pribadi sesorang bukan hasil pendidikan. Tanpa potensi-potensi hereditas yang baik, tidaklah mungkin seseorang mendapatkan taraf yang dikehendaki, meskipun mendapatkan pendidikan yang maksimal.
Pendidikan tidak sesuai dengan bakat dan potensi anak didik , juga tidak akan berguna bagi perkembangan anak sendiri. Anak akan kembali pada bakatnya. Hal ini sesuai dengan nama aliran nativisme, bersala dari kata nativus yang artinya terlahir.
Dan mendidik menurut aliran ini tiada lain adalah membiarkan anak tumbuh berdasarkan pembawaannya. Berhasil tidaknya perkembangan anak bergantung kepada tinggi rendahnya dan jenis pembawaan yang dimiliki anak.
Pandangan dan aliran ini disebut aliran pesimisme, karena menerima kepribadian sebagaimana adanya dengan tidak mempercyai adanya niali-nilai pendidikan untuk merubah kepribadian.
b) Naturalisme
Tokohnya adalah Jean Jacques Rousseau (1712 – 1778), seorang filosof bangsa Prancis, yang mengemukakan pendapat dalam bukunya yang berjudul Emile mengemukakan bahwa: “ semua adalah baik pada waktu datang dari Sang Pencipta, tetapi semua menjadi buruk di tangan manusia ”.
Aliran ini disebut juga alirannegativisme, karena berpandangan bahwa pendidik hanya wajib membiarkan pertumbuhan anak didik saja dengan sendirinya dan selanjutnya diserahkan kepada alam.
Seorangpsikolog Austria yang bernama Rohracher, mempunyai pendapat hampir sama denangan pendapat tadi yakni mengemukakn bahwa: “manusia hanya hasil suatu proses alam menurut hukum tertentu, atau manusia bertanggung jawab tentang bakatnya”.
3.Teori Konvergensi
Tokoh aliran ini ialah William Stern (1871-1938), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan sama pentingnya, kedu-duanya sama berpengaruh terhadap hasil perkembangan anak didik. Hasil perkembangan dan pendidikan anak bergantung kepada besar kecilnya pembawaan situasi lingkungannya.
Berdasarkan kenyataan ini, maka William Stren menyusun teorinya yang dinamakan teori Konvergensi. Ia berpendapat bahwa : “ pembawaan dan lingkungan merupakan dua garis yang menuju kepada suatu titik pertemuan (garis pengumpul)”.
Oleh karena itu perkembangan pribadi sesungguhnya adalah hasil proses kerjasama antara potensi hereditas (internal) dan linkungan serta pendidikan (eksternal). Interaksi antara pembawaan dan lingkungan (termasuk pendidikan) akan mencapai hasil yang diharapkan, apabila anak sendidri harus memainkan peranan yang aktif di dalam mencernakan segala pengalaman yang diperolehnya.




Jadi dari pandangan teori Konvergensi tadi dapat disimpulkan bahwa :
1.Pendidikan itu serba mungkin diberikan kepada anak didik.
2.Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaan yang baik untuk mencegah pembawaan yang buruk.
3.Hasil pendidikan adalah tergantung dari pembawaan dan lingkungan.
Karena filsafat menentukan ide-ide atau idealismenya dan pendidikan itulah yang merealisasikan ide-ide tersebut menjadi kenyataan dalam tindakan atau dalam suatu proses pendidikan.
Dan selanjudnya bagaimana pranan dan fungsi filsafat pendidikan bagi para pendidik sebagaimana yang dikemukakan secara singkat tapi lebih rinci oleh Brubacher tersimpul dalam :
1.Fungsi Spekulatif
Untuk melaksanakan fungsi spekulatif ini maka filsafat pendidikan berusaha:
1.Menarik kesimpulan atau rangkuman dari berbagai persoalan pendidikan ke dalam suatu gambaran pokok atau aksioma melalui proses abstrak dan generalisasi.
2.Memahami persoalan pendidikan secara keseluruhan dan dalam hubungannya denangan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pen didikan.
2.Fungsi Nomatif
Selanjutnya menurut Brubacher, dalam fungsi ini filsafat pedidikan adalah: “diharapkan mempunyai tanggng jawab terhadap permulasi tujuan, norma atau standar untuk mengarahkan proses pendidikan”.
3.Fungsi Kritik
Kemudian dengan fungsi ini filsafat pendidikan melakukan penelitian secara cermat yang didasarkan atas pemikiran-pemikiran dan praktek-praktek pendidikan, dalam hal:
1.enguji dasar-dasar pemikiran logis dimana kesimpulan- kesimpulan pendidikan berada di dalamnya.
2.Menguji dengan teliti bahwa bahasa yang digunakan benar-benar harus terang dan jelas.
3.Memerlukan bukti-buktiyang bermacam-macam yang dapat diterima untuk menguatkan atau menyangkal ungkapan-ungkapan fakta tentang pendidikan.



4.Fungsi Teori bagi Praktek
Filsafat menguji dan memikirkan tentang hakekat segala sesuatu secara menyeluruh, sistematis, terpadu, universal, dan radikal yang hasilnya menjadi pedoman dan arah bagi perkembangan ilmu-ilmu yang bersangkutan. Dan untuk memecahkan masalah kependidikan ada 3 disiplin ilmu yang membantu filsafat pendidikan, yaitu:
1.Teori tentang realita atau kenyataan dan yang ada dibalik kenyataan disebut metafisika.
2.Teori tentang ilmu pengetahuan atau epistemolog.
3.Teori tentang nilai (Etika)
Di samping filsafat pendidikan sebagai asas normatif (pandangan Theodore Brameld), maka pranan dan fungsi filsafat pendidikan (menurut John S. Brucbacher, Guru besar filsafat di Amerika Srikat) tersimpul dalam fungsi-fungsi spekulatif, normatif, kritik, dan fungsi teori bagi praktek.
Selain peranan dan fungsi tersebut tadi, maka jika filsafat pendidikan sebagai pemikiran sebagai pemikiran yang mendasar di bidang pendidikan dalam hubungannya dalam ketiga teori diatas maka filsafat pendidikan mempunyai tugas pokok (Menurut Kilpatrick), yaitu:
1.Memberikan kritik-kritik terhadap terhadap asumsi yang dipegang oleh para pendidik.
2.Membantu mempelajari tujuan-tujuan pendidikan.
3.Melakukan evaluasi secara kritis tentang berbagai metoda yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar